Phone: +6281271175600

email: [email protected]

Blog

Perjalanan Barang Impor dari Supplier China hingga Tiba di Indonesia

Perjalanan Barang Impor dari Supplier China hingga Tiba di Indonesia

Ketika membeli barang dari China, pembeli biasanya hanya berkomunikasi dengan seller atau penyedia layanan impor. Dari luar, prosesnya terlihat sederhana: barang dipesan, pembayaran dilakukan, lalu paket dikirim ke Indonesia.

Namun, satu pesanan sebenarnya melewati rangkaian yang cukup panjang. Barang dapat berpindah dari tempat produksi ke ekspedisi lokal, gudang China, sarana angkut internasional, pemeriksaan kepabeanan, hingga kendaraan yang mengantarkannya ke alamat tujuan.

Mengetahui perjalanan ini membantu importir memahami mengapa barang tidak selalu bisa sampai dalam hitungan hari dan mengapa status pesanan dapat berhenti sementara pada tahap tertentu.

Tahap Pertama: Barang Disiapkan oleh Supplier

Perjalanan dimulai dari supplier. Pihak ini bisa berupa pabrik, distributor, toko grosir, atau seller di 1688, Taobao, Tmall, maupun Alibaba.

Supplier bertanggung jawab menyiapkan barang sesuai pesanan. Jika produk tersedia, prosesnya dapat dimulai dari pengambilan stok. Jika barang dibuat khusus, supplier harus melakukan produksi terlebih dahulu.

Sebelum barang dikirim, pembeli sebaiknya memastikan beberapa hal:

  • varian dan jumlah barang sudah benar;

  • stok tersedia atau waktu produksi sudah diketahui;

  • alamat gudang China ditulis dengan lengkap;

  • marking dicantumkan pada seluruh kardus;

  • cara packing sesuai dengan karakter barang;

  • nomor resi diberikan setelah pengiriman.

Kesalahan pada tahap awal dapat terbawa sampai Indonesia. Contohnya, barang yang salah warna tidak otomatis menjadi tanggung jawab gudang atau pihak pengiriman karena kesalahan tersebut terjadi saat seller menyiapkan pesanan.

Tahap Kedua: Transaksi kepada Seller

Setelah pesanan disepakati, transaksi dilakukan melalui metode yang dapat diterima oleh seller atau platform. Sebagian pembeli menggunakan layanan penerusan dana titipan karena tidak memiliki akses pembayaran langsung di platform China.

Pihak yang membantu transaksi bertugas meneruskan dana sesuai informasi pesanan dan memberikan catatan atau bukti transaksi. Akan tetapi, layanan ini tidak menentukan mutu produk dan tidak menggantikan tanggung jawab pembeli dalam memilih supplier.

Sebelum transaksi diproses, periksa kembali:

  • nama atau tautan seller;

  • jumlah yang harus dibayarkan;

  • nomor pesanan;

  • kurs dan biaya layanan;

  • kesesuaian nominal dengan invoice.

Data yang rapi akan mempermudah penelusuran apabila seller mengatakan dana belum diterima atau pesanan belum masuk ke sistem.

Tahap Ketiga: Pengiriman Lokal di China

Supplier kemudian menyerahkan paket kepada ekspedisi lokal China. Pada tahap ini, barang belum dikirim ke Indonesia. Paket masih bergerak dari kota seller menuju gudang yang telah ditentukan.

Lama pengiriman domestik dipengaruhi oleh jarak, jenis layanan kurir, hari libur, cuaca, dan kepadatan pengiriman. Importir perlu menyimpan nomor resi agar posisi paket dapat dilacak.

Jika status menunjukkan barang telah diterima tetapi belum tercatat di gudang, data yang perlu diperiksa adalah nama penerima, bukti penerimaan, nomor resi, serta marking pada kardus.

Tahap Keempat: Penerimaan di Gudang China

Gudang China menjadi titik pertemuan barang dari satu atau beberapa seller. Petugas gudang mencatat paket masuk berdasarkan resi dan marking yang terlihat pada kemasan.

Tergantung jenis layanannya, gudang dapat melakukan:

  • pencatatan paket;

  • penimbangan dan pengukuran volume;

  • pengecekan jumlah koli;

  • penggabungan beberapa kiriman;

  • packing tambahan;

  • pelabelan untuk jalur pengiriman.

Perlu dipahami bahwa penerimaan gudang biasa tidak selalu mencakup pemeriksaan fungsi, warna, ukuran, atau kualitas setiap produk. Jika membutuhkan pemeriksaan khusus, importir harus menanyakannya sejak awal.

Tahap Kelima: Pengiriman Internasional

Barang yang sudah siap akan dijadwalkan melalui jalur laut atau udara. Pilihan jalur bergantung pada kategori barang, berat, volume, anggaran, dan tingkat kebutuhan.

Pengiriman laut lebih sering dipilih untuk barang besar atau jumlah banyak karena biaya per volumenya cenderung lebih ekonomis. Sebaliknya, jalur udara cocok untuk barang kecil yang dibutuhkan lebih cepat, meskipun biayanya biasanya lebih tinggi.

Pada tahap ini, forwarder berkoordinasi dengan perusahaan pelayaran, maskapai kargo, terminal, dan pihak lain yang mendukung perpindahan barang antarnegara.

Tahap Keenam: Pemeriksaan Kepabeanan

Setelah tiba di Indonesia, barang memasuki proses kepabeanan. Dokumen dan jenis barang akan diperiksa sesuai ketentuan yang berlaku. Bea Cukai dapat melakukan penelitian dokumen maupun pemeriksaan fisik.

Barang tertentu memerlukan perhatian lebih karena termasuk kategori larangan atau pembatasan. Makanan, kosmetik, obat, alat kesehatan, elektronik tertentu, bahan kimia, dan produk bermerek tidak boleh diperlakukan seperti barang umum tanpa pemeriksaan aturan terlebih dahulu.

PPJK dapat membantu pengurusan pemberitahuan dan dokumen kepabeanan. Namun, kelengkapan informasi barang tetap harus berasal dari importir dan dokumen pendukung yang tersedia.

Tahap Terakhir: Pengiriman ke Alamat Tujuan

Sesudah proses kepabeanan selesai, barang dikeluarkan dari pelabuhan atau bandara. Trucking atau pengiriman domestik kemudian membawa barang ke gudang importir, titik pengambilan, atau alamat penerima.

Saat barang diterima, lakukan pemeriksaan sebelum stok didistribusikan:

  1. hitung jumlah kardus;

  2. periksa kondisi kemasan luar;

  3. cocokkan isi dengan packing list;

  4. dokumentasikan kerusakan atau kekurangan;

  5. pisahkan produk yang perlu diklaim.

Mengapa Status Barang Perlu Dilihat Berdasarkan Tahapnya?

Pertanyaan “barang saya ada di mana?” akan lebih mudah dijawab jika importir mengetahui tahap terakhir yang sudah selesai. Apabila seller belum memberikan resi, masalah masih berada pada tahap persiapan. Jika resi sudah aktif tetapi paket belum tiba, pengecekan dilakukan kepada ekspedisi lokal. Jika barang sudah tercatat di gudang namun belum berangkat, statusnya perlu dikonfirmasi kepada pihak yang mengoordinasikan pengiriman.

Memahami perjalanan barang membuat komunikasi lebih terarah. Importir tidak perlu menghubungi semua pihak sekaligus dan dapat menyiapkan bukti yang sesuai dengan kendala yang terjadi.

Kesimpulan

Barang impor tidak bergerak langsung dari tangan supplier ke pembeli. Ada seller, layanan transaksi, kurir lokal China, gudang, forwarder, perusahaan pengangkut, Bea Cukai, PPJK, dan pengiriman darat yang menjalankan perannya masing-masing.

Semakin baik importir memahami setiap tahap, semakin mudah pula memantau pesanan, memperkirakan waktu, dan menentukan pihak yang harus dihubungi ketika muncul kendala.


Leave a Reply